Sayap – sayap patah…

Kucoba kembangkan sayap patahku, tuk terbang tinggi lagi diangkasa… Melayang melukis langit, merangkai awan-awan mendung (Sayap patah, Dewa 19)

Ketika keteguhan kembali luntur…

Posted by qultie on January 21, 2009

duh gusti, jgn sampai saya kembali k masa2 itu…

Perdebatan kemarin memang membuat keteguhan saya kembali luntur, keyakinan2 saya kembali terpendar, tujuan yg saya canangkan kembali terurung…

Haruskah saya melarikan diri seperti yg sering terlintas di benak saya selama ini?

Saya tau, saya sadar ini bukan pemecahannya…. tapi apakah ini bisa menjadi yg terbaik untuk saat ini?

4 Responses to “Ketika keteguhan kembali luntur…”

  1. brenk said

    Not Comment…just sharing

    Berhentilah Jadi Gelas

    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
    belakangan ini selalu tampak murung.

    “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

    “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

    Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
    Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
    Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

    “Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
    Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

    “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

    “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih
    meringis.

    Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

    “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
    tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
    Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
    asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
    di hadapan guru, begitu pikirnya.

    “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil
    mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

    Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
    punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
    Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

    “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

    “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

    “Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah
    dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
    Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
    kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh Allah, sesuai
    untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
    dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
    demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
    bebas dari penderitaan dan masalah.”

    Si murid terdiam, mendengarkan.

    “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat
    tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
    tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu
    jadi sebesar danau.”

  2. Benedict Agung Widyatmoko said

    Jangan pernah sekali-kali lari dari keyakinan, songsonglah kemanisan yang sudah tinggal sejengkal lagi di hadapan :)

    Salam hangat
    Ben

    http://benedikawidyatmoko.wordpress.com
    http://benagewe.blogdetik.com

  3. Benedict Agung Widyatmoko said

    Halooo LT, dimana kah ?
    Haloooo …. :)
    Jadi pengin diajari ganti header blog ndak ya hehehe

    Salam hangat
    Ben

    http://benedikawidyatmoko.wordpress.com

  4. qultie said

    Dear All,
    Saya tidak akan berhenti, saya cm beristirahat… menghela napas, kemudian mengumpulkan kembali kekuatan untuk meneruskan perjalanan…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>